Sepenggal cerita, di balik layar dari sebuah peperangan yang terjadi di setiap belahan bumi, hanya meninggalkan kepedihan dan kebanggaan semu bagi mereka yang bermain di dalamnya.
Ada peperangan untuk menyerang ataupun mempertahankan diri. Ada peperangan untuk melakukan invasi ataupun untuk memperoleh kemerdekaan.
Namun satu hal yang tak bisa disangkal, ada sebagian besar prajurit, di antara kedua kubu yang bertikai, tidak pernah mengenal satu sama lain. Bahkan berpapasanpun tidak pernah. Mereka hanya berjumpa di medan pertempuran. Di benak mereka sudah tertanam dengan mantap “aku harus membunuh mereka, apapun yang terjadi, meskipun harus mengorbankan nyawaku” Bangun!!
Tak pernahkah mereka berpikir “mengapa aku harus mencelakainya? Secara pribadi? Apa yang telah dilakukannya padaku? Apakah hanya karena dia berada di kubu yang berseberangan denganku?”
Mundur sedikit ke belakang dari kengerian sebuah perkelahian bersenjata.
Satu orang dari kubu A, adalah seorang Bapak yang baik. Sangat menyayangi keluarga. Dalam kesehariannya sangat dikasihi oleh orang-oranng di sekitarnya. Namun harus bertempur ke negara B atas perintah Rajanya. Pergilah dia ke medan pertempuran meninggalkan anak dan istrinya
Seorang lagi dari kubu B, seorang pemuda yang baik, yang juga sangat menyayangi keluarga dan kekasihnya. Namun suatu ketika teman-temannya mengajaknya untuk ikut menyerang negara A, karena terkait isu yang dilakukan oleh beberapa orang dari negara A. Karena provokasi dari berbagai media dan desakan dari temannya, maka pemuda tersebut ikut ke medan pertempuran.
Tibalah saat perang terjadi, suatu masa dimana kedua lelaki itu bertemu dalam sebuah peperangan bersenjata. Teriakan, darah, kehancuran, seakan-akan mimpi buruk menjadi nyata. Dan di akhir cerita matilah kedua lelaki tersebut tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dan meninggalkan keluarga mereka dan kehilangan nyawa mereka yang berharga.
Apakah mereka tau siapa yang sebenarnya membunuh mereka?