Saat aku lahir, aku tidak punya cita cita. Sebelum aku mati, aku juga tidak punya cita cita. Cita citaku muncul justru bukan karena keinginnanku, tapi karena dorongan oleh orang lain.
Saat aku masih kelas 3 SD, aku suka merakit mainan, dan mamaku bilang aku akan menjadi teknik mesin, lalu aku bercita cita menjadi teknik mesin.
Setelah masuk SMP, aku suka menggambar di sekolahku, dan teman temanku bilang, aku harus menjadi Arsitek dan komikus, lalu aku bercita cita menjadi Arsitek.
Setelah masuk SMA, aku suka bermain game. Tidak ada yang menyarankanku untuk menjadi seorang gamer, tapi aku ingin menjadi pembuat game.
Setelah lulus SMA, aku ingin kuliah, tapi gagal masuk ke UI dan USU untuk mengambil jurusan Arsitekur, karena aku gagal dalam SNMPTN saat itu. Yang dimana aku harus lulus menjawab ujian dalam mata pelajaran yang tidak ada hubungannya dengan dunia Arsitektur.
Lalu aku harus terpaksa mengambil jurusan lain yang seperti Arsitek, tapi berbeda jauh, yaitu teknik sipil.
Dan itu yang sedang ku jalani saat ini. kuliah dengan setengah hati. Seperti menikahi wanita yang tidak pernah aku cintai.
Setelah aku masuk kuliah, cita citaku hilang, cita citaku kalau bisa aku mati saat ini. Setelah menyadari betapa sadisnya pembodohan yang aku alami.
Mereka menghancurkanku disaat aku masih belum mengenal dunia, diaaat aku masih polos dan tidak tau apa apa. Setelah aku tau, mereka juga akan menghancurkan aku.
Mereka juga sudah menghancurkan yang lain, namun bedanya yang lain ga sadar, padahal sudah benar benar dewasa untuk berpikir.
Cita citaku hancur, dan tidak ada yang peduli bahkan oleh orang tuaku sendiri.