Andaikan Kawanku dapat beasiswa saat itu..

Aku yakin kawan dekatku pasti masih kuliah sampai detik ini. Namun karena kendala yang seharusnya tidak pantas menjadi kendala, akhirnya, kawanku, putus kuliah di tengah jalan. Karena bapaknya meninggal.

Sangat disayangkan…

Uang kuliah kami sebesar 225 ribu untuk 2 SKS, bilanglah kasarnya 300 ribu. 16 pertemuan dalam 1 semester.
Didapatlah kira kira 20 ribu upah dosen sekali mengajar dalam 2 x 50 menit.
Itu masih hitungan kasar, kemungkinan besar lebih murah dari itu. Itu belum termasuk waktu yang diperlukan dosen untuk mengajar esok hari.

Buat apa aku hitung itu?

Andaikan saja, dosen, rela tidak mendapat upah sebesar 20 ribu untuk satu siswa, bagaimana?

Hitung hitung sedekah? Bagaimana?

Lagi pula dosen ga akan rugi kalau ada mahasiswa yang bolos selama satu semester tapi tetap bayar uang kuliah kan?

Anggap aja 1 tukar 1, anggap aja pengganti, bagaimana?

Dosen merasa rugi karena kerja keras mereka ga mendapatkan upah dari orang tua mahasiswa. Ok gpp.

Ok, kita jangan bicara dosen, mereka cuma pekerja. Bagaimana dengan universitasnya langsung.

Bagaimana jika universitas membiayai seseorang yang kebetulan menjadi anak yatim selama menempuh pendidikan di kampusnya?

Hitungan kasarnya 3,5jt untuk satu orang selama 1 semester. Bagaimana?

Universitas merasa rugi karena kerja keras mereka ga mendapatkan upah dari orang tua mahasiswa. Ok gpp.

Bagaimana dengan pemerintah?

Pemerintah hanya memberikan subsidi kepada universitas negeri. Ok gpp.

Ok gpp kita ga berharap kepada dosen, universitas dan pemerintah. Bagaimana dengan teman teman kampus?

Rokok 24 ribu sebungkus sanggup kita beli untuk sehari. Jajan 5 ribu beli batagor sanggup kita beli. Ada 30 mahasiswa dalam satu angkatan. Jika tiap hari kita menyumbang 2 ribu untuk kawan kita sendiri bagaimana?

Aku yakin kalian akan berkata,”eh boy, kau gilak ya, uang bulanan kami aja kurang!! Kalau dihitung hitung itu kena juga 60 ribu, mending kami beli paket data!!”

Sungguh

malang

sekali

nasib

mu

Kawanku….

Saat ku dengar kabar darimu langsung di telingaku bahwa orang tuamu meninggal dunia, aku yakin ceritanya bakal seperti ini kawan.

Kau bilang bahwa keluargamu yang lain juga susah cari makan, jadi ga bisa membantu membiayai kuliahmu.

Sedih sekali kisahmu kawan. Andaikan aku berada di posisimu, aku ga yakin bisa setegar dirimu.

Lagipula kita juga ga bisa maksa orang lain harus bantu kita, ga bisa. Mereka juga punya urusan mereka sendiri yang lebih penting menurut mereka.

Tapi aku yakin, cerita ini akan berbeda 180° jika semua mahasiswa mengalami kejadian serupa secara serentak. Barulah semua mata melirik. Barulah semua dibantu secara merata. Tapi kalau cuma 1 ya.. Anggap aja ga ada.. Ya kan?

Fakta di lapangan membuktikan bahwa ada beberapa anak anak putus sekolah karena masalah ekonomi. Dulu, saudaraku putus sekolah karna mamaknya ga sanggup bayar uang sekolah, karena makan aja susah.

Ngeri ya?

Ini contoh khasus yang dialami oleh kawanku sendiri di depan mataku sendiri.

Memang benar, ada banyak juga anak yatim yang bisa kuliah, karena keluarga masih sanggup membiayai kuliah. Kalau ga sanggup? Ada juga mahasiswa kuliah sambil kerja. Ada. Mereka semua bermental baja.

Tapi satu hal yang gak bisa dipungkiri, kebanyakan orang, hanya menyelamatkan dirinya sendiri.

Kita ga bisa menyalahkan siapa siapa. Kita ga berhak menyalahkan orang yang ga mampu, ga mau, ga sudi, ga rela, ga sempat membantu kita. Ga bisa kita salahkan orang lain.

Kita juga ga bisa salahkan keadaan buruk yang menimpa kita. Ga bisa.

Kita juga ga bisa cuma berandai andai saja…

… andai beasiswa diberikan untuk anak yatim….

… andai mereka peduli dengan kita….

andai ini…. andai itu…

Ga bisa.

Yang cuma bisa kita lakukan cuma mengambil pelajaran dari itu semua, supaya di masa depan nanti, mungkin kelak ketika kita seumuran dengan dosen kita sekarang, rektor kita sekarang, pemerintah kita sekarang, kita ga mengulangi kesalahan yang sama.

Untuk saat ini ga bisa, karna kita ga punya kuasa untuk itu.

Jangan sampai ketidakpedulian ini kita ulang kembali.

Karna kita sudah merasakan sakitnya, kalau boleh generasi berikutnya jangan sampai mengalami rasa sakit yang sama.

Tinggalkan komentar