Kitab BhagawadGita, Salah satu kitab Veda, Kitab Suci umat Hindu

Ini adalah tulisan yang panjang boy, jangan baca kalau ga punya waktu dan ga punya minat dengan agama.

Jadi aku penasaran akan sama apa itu Agama Hindu, karena setelah aku cari di google, aku ga nemu kitab weda atau veda dalam bentuk pdf.

Jadi aku coba cari di playstore ternyata ada. Yang ku dapat ternyata salah satu dari 5 kita veda.

Download aja disini

Setelah aku baca, ada banyak hal yang menarik. Jadi aku dapat mengerti sedikit bagaimana pola pikir umat hindu yang ternyata begitu luas.

Dulu aku juga punya kawan dekat orang hindu bali, namanya Santika sama Leo kalo ga salah waktu main bareng di game Perfect World di tahun 2010-2013. Dan tukang jual roti cane sama martabak telor yang pernah ku beli juga beragama hindu.

Kalau ditanya kitab BhagawadGita itu apa, aku cuma bisa bilang itu secara garis besar percakapan antara Krisna dan Arjuna sebelum mereka berperang melawan saudaranya sendiri yang diceritakan oleh Sanjaya kepada Maharaja.

Kalo menurutku ini kitab hanya cocok dibaca oleh orang dewasa.

Terlepas dari segala sesuatu yang berbau spiritualisme, ada banyak pelajaran yang menurutku pantas untuk disimpan.

Siapapun yang menulis dan menerjemahkan kitab BhagawadGita aku ucapkan terima kasih.

Aku Husky,
Shalom Aleichem.


BG XVIII – 63

Demikianlah ilmu pengetahuan yang paling rahasia dari semua mistik, telah Ku-ajarkan kepadamu; setelah mempertimbangkan semua ini sepenuhnya, bertindaklah seperti yang engkau kehendaki.

BG XVIII – 74 – 76
Sanjaya berkata:

Demikianlah yang telah hamba dengar percakapan luar biasa antara Vasudeva, dengan Partha yang berjiwa mulia, menyebabkan bulu roma hamba tegak berdiri.

Atas restu bhagavan Vyasa, hamba dapat mengetahui rahasia paling utama, ajaran yoga yang diajarkan langsung oleh Krsna sendiri, sebagai penguasa yoga, sebagaimana telah diajarkan oleh-Nya.

Wahai Maha Raja, bila hamba teringat lagi dengan percakapan suci luar biasa antara Kesava dan Arjuna ini, hamba merasa bahagia setiap saat.


BhagawadGita

Kata Pengantar

OM Swastiastu

Bhagavadgita adalah salah satu kitab suci yang Agama Hindu yang disebut Pancama Veda (Veda Kelima) yang memuat saripati ajaran Veda atau saripati Ajarah Hindu Isinya sangat simpel dan diperlukan oleh masyarakat luas khususnya agama Hindu.

Pembuatan aplikasi ini mengandung harapan untuk memenuhi keinginan masyarakat luas khususnya umat Hindu untuk lebih memahami Agamanya melalui perangkat Android yang sekarang sudah umum digunakan.

Sumber pembuatan Aplikasi Bhagavadgita ini mengacu pada Kitab Bhagavadgita oleh G. Pudja MA. SH terbitan Paramita Surabaya :1999.

I. Visada Yoga

BG I – 32,33,34,35
Saya tidak mengharapkan kemenangan dan tidak juga kerajaan dan kesenangan, wahai Krsna, apa gunanya kerajaan dan kesenangan demikian pula hidup ini, wahai Krsna?

Untuk siapa kita perebutkan kerajaan, kebahagiaan dan kesenangan yang mereka (pertahankan), berada disini siap untuk berperang dengan mengorbankan jiwa dan harta benda mereka?

Guru, Bapa, anak-anak dan kakek, serta paman, ipar, cucu, mertua dan sanak keluarga lainnya.

Semua itu aku tak hendak membunuh mereka, sekalipun (mereka membunuhku), wahai Krsna; untuk ketiga dunia ini, apalagi hanya untuk dunia ini saja.

BG I – 39
Namun mengapa kita tidak mengetahui dosa itu, untuk melenyapkan dari perbuatan dosa, oleh karna itu kita menyadari dengan jelas bahwa membasmi keluarga merupakan suatu dosa.

BG I – 40
Dengan hancurnya semua keluarga, adat istiadat keluarga yang turun temurun akan hancur dan lenyapnya tradisi keluarga akan dikuasai oleh ketidakpastian hukum.

BG I – 45
Ah, betapa besar dosa kita, merencanakan pembunuhan sanak keluarga, hanya menuruti kesenangan dan loba, menginginkan kerajaan dan kenikmatan.

II. Sankhya Yoga

BG II – 15
Sesungguhnya orang yang teguh pikirannya wahai Arjuna, yang merasa sama antara susah dan senang, orang seperti itulah yang patut hidup kekal abadi.

BG II – 16
Apa yang tidak ada, tak akan pernah ada (dan) apa yang ada tak akan berhenti ada, kesimpulannya keduanya telah dapat dimengerti oleh para pengamat kebenaran.

BG II – 44
Orang yang pikirannya terpengaruh oleh keinginan akan kenikmatan dan kekuasaan, tak akan terpusatkan dan tak akan mampu melakukan samadhi.

BG II – 47
Berbuatlah hanya demi kewajibanmu, bukan hasil perbuatan itu(yang kau pikirkan), jangan sekali kali pahala menjadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri tanpa kerja.

BG II – 48
Pusatkan pikiranmu pada kerja tanpa menghiraukan hasilnya, Wahai Dananjaya (Arjuna), tetaplah teguh baik dalam keberhasilan maupun dalam kegagalan, sebab keseimbangan jiwa itulah yang disebut dengan yoga.

BG II – 49
Sesungguhnya karma jauh lebih rendah daripada disiplin akal budi, wahai Arjuna, karena itu berlindunglah pada kecerdasan, karena sangat menyedihkan halnya mereka yang hanya mengharapkan pahala dari kerja sebagai motifnya.

BG II – 52
Apabila pikiran telah terbebas dari kebingungan, akhirnya engkau akan bersikap netral pada apa yang engkau dengar dan apa yang akan engkau dengar.

BG II – 53
Bila pikiranmu yang dibingungkan oleh apa yang didengar tak tergoyahkan lagi dan tetap dalam samadhi, kemudian engkau akan mencapai yoga (realisasi diri).

BG II – 56
Orang yang tidak sedih dikala duka, tidak kegirangan dikala bahagia, bebas dari nafsu, rasa takut dan amarah, ia disebut orang bijak dan teguh.

BG II – 60
Walaupun seorang yang budiman telah berusaha sekuat tenaga, wahai Arjuna. indra-indranya yang liar akan memaksa menyeret pikiranya dengan kuat.

BG II – 61
Setelah dapat menguasai semua ini, ia harus duduk memusatkan pikiran kepada-Ku, sebab yang dapat mengendalikan panca indrianya dinamakan memiliki kebijakasanaan yang teguh.

BG II – 62
Dengan memikirkan objek-objek indra maka orang akan terbelenggu padanya, daripadanya lahir keinginan, dan dari keinginan itu lahirlah amarah.

BG II – 63
Dari amarah timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan menghancurkan penalaran, dari kehancuran penalaran membawanya pada kemusnahan.

BG II – 64
Tetapi, ia yang hidup ditengah-tengah objek duniawi dengan tetap menguasai indria-indrianya dan bebas dari kesenangan dan kebencian, dengan pengendalian seperti itu ia mencapai kedamaian (dalam jiwanya)

BG II – 65
Dan dalam jiwa yang tenang, akan lenyap segala penderitaan, karena pikiran orang bijaksana dan tenang itu, akan menjadi teguh dalam keseimbangan.

BG II – 66
Tak ada kebijaksanaan dalam pikiran yang tak terkendalikan dan juga tak ada kosentrasi yang dapat dilakukan dan juga tak ada kedamaian pada pikiran yang tak terpusatkan, sehingga bagaimana mungkin yang tanpa ketenangan dapat menikmati kebagagiaan bukan?

BG II – 67
Sesungguhnya pikiran yang mengikuti keinginan panca indra bila tak terkendalikan akan terbawalah kebijaksanaannya, laksana perahu yang hanyut dalam air terbawa angin.

BG II – 68
Karenanya, orang yang dapat mengendalikan panca indera sepenuhnya dari segala objek keinginannya, wahai Mahabahu (yang berlengan perkasa), ialah yang kebijaksanaannya telah mantap.

BG II – 71
Orang yang mencampakkan semua keinginannya dan bertindak bebas tanpa keinginan, bebas dari perasaan ‘aku’ dan ‘punyaku’ ia mencapai kedamaian.

III. Karma Yoga

BG III – 4
Tanpa kerja orang tak akan mencapai kebebasan, demikian juga ia tak akan mencapai kesempurnaan karena menghindari kerja.

BG III – 5
Walaupun untuk sesaat tak seorangpun mampu untuk tidak berbuat, karena setiap manusia dibuat tidak berdaya oleh hukum alam yang memaksanya bertindak.

BG III – 6
Ia yang duduk mengendalikan panca indranya tetapi pikirannya ingat kenikmatan yang menjadi objek indranya, sesungguhnya ia adalah hipokrit (orang munafik)

BG III – 7
Sesungguhnya orang yang dapat mengendalikan panca indranya dengan pikiran, wahai Arjuna, dengan panca indranya bekerja tanpa keterikatan, ia adalah sangat dihormati.

BG III – 8
Bekerjalah seperti yang telah ditentukan, sebab berbuat lebih baik daripada tidak berbuat,dan bahkan tubuhpun tidak berhasil terpeliharan tanpa berkarya.

BG III – 16
Demikianlah sebabnya terjadi perputaran roda, (dan) ia yang tak ikut dalam perputarannya itu berbuat jahat, selalu berusaha memenuhi nafsu indranya, sesungguhnya ia hidup dalam sia-sia, wahai Partha.

BG III – 19
Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat (pada akibatnya), sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya akan mencapai yang utama.

BG III – 21
Apapun juga kebiasaan baik itu dilakukan, orang lain juga akan mengikutinya. Teladan apapun yang dilakukannya, dunia akan mengikutinya.

BG III – 23
Sebab kalau aku tidak selalu bekerja tanpa henti-hentinya, orang tak akan mengikuti jalan-Ku itu dalam segala bidang apapun juga.

BG III – 26
Mereka yang bijaksana janganlah membingungkan yang bodoh, yang terikat dengan kegiatan kerja; melainkan mengajak semuanya bekerja dan bekerja sama atas dasar itu.

BG III – 29
Mereka yang tertipu oleh sifat prakerti itu terikat pada fungsi dari gun, tetapi orang yang berpengetahuan sempurna hendaknya jangan sampai menyesatkan mereka yang pengetahuannya belum sempurna.

BG III – 33
Bahkan orang bijaksana berbuat menurut sifat bijaksananya sendiri, semua makluh juga bertindak menurut sifatnya pula, apakah dapat diselesaikan dengan paksa?

BG III – 34
Cinta dan benci dari indra-indra terhadap objek keinginan itu sendiri adalah alamiah; karenanya jangan menyerah dibawah pengaruhnya, sebab keduanya itu merupakan musuh belaka.

BG III – 39
Tertutuplah ilmu pengetahuan kebajikan itu oleh nafsu yang tidak puas-puasnya pada mereka, yang merupakan musuh utama, wahai Arjuna.

BG III – 40
Panca indra, pikiran dan kecerdasan adalah kendaraan baginya; dengan tertutupnya ilmu pengetahuan olehnya menyebabkan bingungnya jiwa dalam badan.

BG III – 41
Dari itu, pertama-tama kendalikanlah panca indramu dan basmilah nafsu yang penuh dosa, perusak segala pengetahuan dan kebijakan, wahai Arjuna yang baik.

BG III – 42
Orang mengatakan panca indra itu lebih besar daripada badan, lebih besar daripadanya adalah nurani, lebih besar dari nurani adalah intelek, tetapi lebih besar dari intelek adalah Dia (atman)

BG III – 43
Jadi dengan mengetahui Dia sebagai lebih agung dari kecerdasan, dengan mengendalikan sang diri dengan sang Diri, basmilah musuhmu dalam wujud hawa nafsu yang sulit ditundukkan, wahai Mahabahu.

IV. Jnana Yoga

BG IV – 16
Apakah karma itu dan apakah Akarma itu? para cendekiawanpun bingung. Ini akan Aku nyatakan dan setelah Engkau mengetahuinya, akan terbebas dari kejahatan.

BG IV – 17
Orang harus mengerti tentang karma, demikian pula untuk membedakan tentang karma terlarang, demikian pula makna tidak ber-karma, karena sesungguhnya tidak jelas jalannya karma itu.

BG IV – 18
Dia yang melihat tanpa kegiatan pada kegiatan kerja, kerja (karma) dalam tak kerja (akarma), ia sesungguhnya orang bijaksana diantara manusia, ia dikendalikan dan bekerja dengan sempurna.

BG IV – 19
Ia yang bekerja dalam semua kerjanya tidak terikat oleh motif atau karma, yang karmanya terbakar oleh apinya pengetahuan, sesungguhnya orang bijaksana menamakannya pendeta.

BG IV – 20
Menjauhkan diri dari keterikatan akan hasil perbuatan, selalu gembira, tak terikat kepada siapapun juga, walaupun ia tekun terus menerus bekerja, sesungguhnya ia tidak melakukan apa-apa.

BG IV – 21
Tanpa mengharapkan sesuatu apa dengan pikiran dan hati terkendalikan dan rela melepaskan segala miliknya, walaupun sibuk dalam kegiatan kerja jasmani, dia tidak berdosa.

BG IV – 22
Ia yang puas akan apa-apa yang diperoleh seadanya, bebas dari pertentangan dualisme; tidak iri hati, seimbang dalam keberhasilan dan kegagalan walaupun bekerja, ia tidak terikat.

BG IV – 23
Yang bebas, terlepas dari ikatan pikiran, terpusat pada ilmu pengetahuan, melaksanakan kerja demi pengabdian, segala kerjanya akan luluh dengan sendirinya.

BG IV – 33
Persembahan berupa pengetahuan, wahai Arjuna, lebih mulia dari persembahan materi, dalam keseluruhannya semua kerja ini akan mendapatkan apa yang diinginkan dalam ilmu pengetahuan, wahai Partha.

BG IV – 34
Pelajarilah itu dalam sujud disiplin, dengan bertanya dan dengan pelayanan; orang bijaksana, yang melihat kebenaran, akan mengajarkan kepadamu pengetahuan itu.

BG IV – 38
Tak ada sesuatupun didunia ini yang dapat menyamai kesucian ilmu pengetahuan; mereka yang sempurna dalam yoga akan memenuhi dirinya sendiri dalam jiwanya pada waktunya.

BG IV – 39
Ia yang memiliki kepercayaan, mengabdi dan menguasai panca indranya, memperoleh ilmu pengetahuan; dengan memiliki ilmu pengetahuan ia menemui kedamaian abadi.

V. Karma Vairagya Yoga

BG V – 7
Dia yang melaksanakan yoga, berjiwa suci, menguasai diri, menaklukan panca indra Rohnya adalah roh semua mahluk, walaupun ia bekerja, tidak terpengaruh (oleh kerja)

BG V – 8,9
Ia yang mengikuti jalan karma yoga, yang mengetahui hakekat kebenaran itu, berpikir:”Aku sebenarnya tidak berbuat apa-apa” walaupun dengan melihat, mendengar, meraba,makan, pergi, tidur, bernafas.

Tatkala berbicara, mengeluarkan, menggenggam, membuka dan memejamkan mata, ia beranggapan, hanya panca indria belaka yang bergerak diantara objek-objek indra.

BG V – 11
Para yogi terlibat dalam bekerja mempergunakan badan, pikiran, akal budhi dan bahkan dengan panca indra mereka, hanya untuk pensucian diri dengan menanggalkan keterikatan.

BG V – 13
Dengan menanggalkan segala kegiatan kerja secara mental, dengan menguasai sang diri, jiwa yang bertahta dengan damai disembilan gerbang itu, tiada bekerja, pun tidak menyebabkan kerja.

BG V – 15
Tuhan seru sekalian alam tidak menerima dosa maupun kebajikan seseorang manusia; budi pekerti yang diselubungi ketidaktahuanlah yang menyebabkan mahluk tersesat di jalan.

BG V – 18
Orang arif bijaksana melihat semuanya sama, baik brahmana budiman dan rendah hati maupun seekor sapi, gajah dan anjing ataupun orang hina papa, tanpa kasta.

BG V – 23
Dia yang mampu menahan kecenderungan keinginan dan amarah didunia ini, sebelum meninggalkan jasad raganya, dia adalah yogi, dia adalah orang yang bahagia.

BG V – 25
Orang suci yang dosanya telah dimusnahkan, keragu-raguannya dihapuskan, pikirannya dipusatkan, kebahagiaannya berbuat kebajikan bagi mahluk semua, dia akan mencapai nirvana bersatu dengan Brahman

BG V – 27,28
Memutuskan hubungan dengan objek luar, memusatkan pandangan mata diantara kening, melakukan pranayama melalui kedua lubang hidung dengan seimbang.

Menguasai panca indria, pikiran dan kecerdasan, seorang Muni yang berhasrat mencapai kelepasan, membuang jauh nafsu, takut dan murka, mereka akan mencapai kelepasan yang abadi.

VI. Abhyasa Yoga

BG VI – 5
Biarlah dia mengangkat jiwanya dengan jiwanya sendiri, janganlah jiwanya menjerumuskan dirinya, sebab hanya jiwalah teman jiwanya dan hanya jiwalah musuh jiwanya.

BG VI – 7
Orang yang dapat menguasai jiwanya, yang mencapai ketenangan paratman, akan tetap seimbang terhadap panas dan dingin, terhadap suka dan duka, terhadap pujian dan cacian.

BG VI – 8
Yogi yang terpuaskan oleh pengetahuan spiritual dan kebijaksanaan, tak tergoyahkan, dengan panca indranya terkuasai, yang baginya melihat segumpal tanah, batu dan emas dikatakan sama, ialah seorang yogi yang mantap (teguh).

BG VI – 9
Dia yang melihat sama dengan antara yang dicintai, teman dan lawan, tidak memihak, yang netral dan penengah, terhadap yang dibenci dan keluarga, antara orang suci dan pendosa, dialah orang utama.

BG VI – 10
Hendaknya seorang yogi selalu berusaha untuk memusatkan pikirannya ditempat terpencil sendirian, setelah menguasai pikirannya dan raganya bebas dari nafsu keinginan dan kemilikan.

BG VI – 11,12
Dengan teguh duduk ditempat yang bersih, diatur untuk dirinya tidak tinggi dan juga tidak rendah dialasi dengan rumput suci kusa (alang-alang), ditutupi dengan kulit rusa dan kain.

Disana, dengan memusatkan pikiran ke satu titik, mengendalikan kemampuan pikiran dan kerja panca indra, duduk di atas tempat duduknya, melaksanakan yoga, guna mensucikan jiwa.

BG VI – 13,14
Dengan badan, kepala dan leher tegak duduk diam tiada bergerak-gerak, tetap memandang ke ujung hidungnya dan tanpa menoleh-noleh ke sekitarnya.

Tenang, tanpa rasa takut, teguh melakukan pembujangan, menundukkan pikirannya, ia hendaknya duduk melakukan yoga dengan memikirkan Aku dan hanya memperhatikan Aku saja.

BG VI – 17
Bagi yang tidak berlebihan dalam hal makan dan rekreasi, yang sewajar-wajarnya saja dalam kegiatan kerjanya, yang tidur dan bangunnya teratur, yoga akan menjadi penghapus dukanya.

BG VI – 19
“Seperti lampu di tempat tak berangin nyalanya tak berkedip” inilah perumpamaan yang digunakan bagi pikiran yang terkendali bagi seorang yogi yang melatih kosentrasi pada sang diri.

BG VI – 20,21,22,23
Bilamana pikiran, yang telah didisiplinkan dengan pelaksanaan yoga, memperoleh ketenangan , dan kemudian dengan memandang sang Diri dengan diri, maka ia terpuaskan dengan sang Diri.

Bila ia merasakan kebahagiaan tertinggi yang diterima oleh intelek dan yang mengatasi panca indra, dan dari sana ia termantapkan, dan tak akan pernah berpindah lagi dari realitas (kebenaran)

Dengan tercapainya apa yang dipikirkannya tak ada lagi yang lebih mulia daripada itu yang dapat dicapai, disana ia menjadi mantap tak tergoyahkan oleh duka terberat sekalipun.

Supaya diketahui bahwa yang dinamakan yoga, adalah putusnya hubungan dengan penderitaan, yoga ini harus dilaksanakan dengan keteguhan hati dan pikiran yang mantap.

BG VI – 24
Dengan menanggalkan segala nafsu keinginan untuk diri pribadi tanpa terkecuali dan mengendalikan semua panca indra melalui pikiran dari semua jurusan.

BG VI – 34
Wahai Krsna, pikiran itu sungguh gelisah, bergejolak, kuat dan keras, (dan) sangat liar, kuat dan tak mudah dibelokkan karena sukar dikendalikan, seperti halnya mengendalikan angin.

BG VI – 35
Krsna bersabda:
Tidak dapat diragukan lagi, wahai Arjuna, pikiran itu berubah-ubah, sukar ditaklukkan, tapi ia bisa dikendalikan, wahai Arjuna, dengan membiasakan diri dan vairagya (tanpa keterikatan)

BG VI – 36
Aku percaya, yoga sukar dicapai oleh orang yang tak bisa mengendalikan diri, tetapi ia yang dapat dicapai dengan mengendalikan diri dan usaha melalui cara yang benar.

VII. Paramahamsa Vijnana Yoga

BG VII – 4
Tanah, Air, Api, Udara, ether, pikiran, budhi dan ego merupakan delapan unsur alam-Ku yang terpisah.

VIII. Aksara-Parabrahman Yoga

IX. Raja-Vidya-Guhya Yoga

X. Vibhuti-Vistara Yoga

XI. Visvarupa-Darsana Yoga

XII. Bhakti Yoga

BG XII – 12
Sesungguhnya ilmu pengetahuan lebih baik dari kebiasaan, meditasi lebih baik dari ilmu pengetahuan, meninggalkan karma phala lebih baik dari meditasi, dari meninggalkan (karma phala itu) kedamaian akan datang kemudian.

BG XII – 13,14
Dia yang tidak membenci segala mahluk, bersahabat dan cinta kasih, bebas dari keakuan dan keangkuhan, sama dalam suka dan duka, pemberi maaf.

Seorang yogi yang selalu puas, mantap dalam meditasi, pengendalian diri, memiliki keyakinan yang teguh, dengan pikiran dan kecerdasan dipusatkan kepada-Ku, ia sesungguhnya bhakta-Ku yang terkasih.

BG XII – 15
Dia yang oleh siapa dunia ini tak diganggu dan tak mengganggu dunia ini, yang bebas dari kesenangan, kemarahan, ketakutan dan kebingungan, dia inilah yang terkasih.

BG XII – 16
Dia yang tak mengharapkan apapun, murni dan giat, tak peduli, tak terusik, yang telah tidak memiliki pamrih apapun, dialah pemuja yang Ku-kasihi.

BG XII – 17
Dia yang tidak bersenang hati, tidak membenci, tidak berduka, dan tak menuruti nafsu keinginan, yang melepaskan kebaikan dan kebatilan dengan penuh kebaktian, dialah yang Ku-kasihi.

BG XII – 18,19
Dia yang sama terhadap kawan dan lawan, juga sama dalam kehormatan dan kehinaan, sama dalam panas dan dingin, suka dan duka, bebas dari keterikatan.

Kepada siapa puji dan maki sama, pendiam, puas terhadap apapun yang dialami, tanpa tempat tinggal, tegas dalam pandangan, berbhakti, orang inilah yang Ku-kasihi.

XIII. Ksetra-Ksetrajna-Vibhaga Yoga

BG XIII – 8,9,10,11,12
Rendah hati, ketulusan, tanpa kekerasan, kesabaran, keadilan, serta mengabdi kepada guru, kesucian, keteguhan iman, dan mawas diri.

Ketidakinginan akan keduniawian, lenyapnya keakuan dan pemahaman akan keburukan kelahiran, kematian, usia tua, sakit dan kesengsaraan.

Ketidakterikatan, bebas dari ketergantungan pada anak, istri, rumah tangga dan sebagainya, selalu sama dalam menghadapi peristiwa yang menyenangkan dan yang tak menyenangkan.

Berbhakti kepada-Ku dengan keteguhan hati tanpa tujuan lain melalui yoga, sering-sering pergi ke tempat sunyi, menjauhi masyarakan manusia.

Berusaha dengan sungguh-sungguh dalam ilmu pengetahuan rohani, pengetahuan tentang kebenaran, memahami sedalam-dalamnya tujuannya, inilah yang disebut pengetahuan dan semua yang lainnya adalah kebodohan.

XIV. Gunatraya-Vibhaga Yoga

BG XIV – 22,23,24,25
Sri Bhagavan bersabda:
Wahai Pandava, mereka yang tidak membenci kecemerlangan, kegiatan dan juga kebingungan apabila mereka muncul, ataupun menghendakinya bila tidak ada lagi.

Yang duduk sebagai orang yang tak peduli, tak terganggu oleh sifat-sifat ini, yang memahami bahwa hanya guna yang berbuat, ia tetap mantap tak tergoyahkan.

Dia yang seimbang terhadap suka dan duka, percaya pada diri sendiri, melihat sama terhadap segumpal batu maupun emas, sama terhadap yang dicintai dan yang tidak dicintai, teguh pada pendirian, baik terhadap cacian dan pujian.

Ia yang melihat sama terhadap kehormatan maupun kehinaan, sama pula terhadap kawan dan lawan, meninggalkan semua kegiatan usaha, dialah yang telah dikatakan mengatasi triguna.

XV. Purusottama Yoga

XVI. Daivasura-Sampad-Vibhaga Yoga

BG XVI – 1,2,3
Sri Bhagavan bersabda:
Tak gentar, kemurnian hati, bijaksana, mantap dalam mencari pengetahuan dan melakukan yoga, dermawan, menguasai indra, berkurban dan mempelajari kitab suci, melakukan tapah dan kejujuran.

Tidak menyakiti, benar, bebas dari nafsu amarah, tanpa keterikatan, tenang, tidak memfitnah, kasih sayang kepada sesama mahluk, tidak dibingungkan oleh keinginan, lemah lembut, sopan dan berketetapan hati.

Cekatan, suka memaafkan, teguh iman, budi luhur, tidak iri hati, tanpa keangkuhan, semua ini adalah harta, dari dia yang dilahirkan dengan sifat-sifat devata, wahai Arjuna.

BG XVI – 4
Berpura-pura, angkuh, membanggakan diri, marah, kasar, bodoh, semuanya ini adalah keadaan mereka yang dilahirkan dengan sifat-sifat raksasa, wahai Partha (Arjuna)

BG XVI – 6
Ada dua macam mahluk ciptaan di dunia ini, yang mulia dan yang jahat, yang mulia telah di uraikan secara terperinci, (selanjutnya) dengarkan tentang yang jahat, dari Aku, wahai Partha (Arjuna)

BG XVI – 7
Yang jahat tidak mengetahui apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak, demikian pula mereka tidak memiliki kemurnian, kelakukan baik maupun kebenaran.

BG XVI – 8
Mereka mengatakan, “dunia ini tidak nyata, tanpa dasar moral, tanpa Tuhan, yang timbul hanya karena hubungan yang disebabkan oleh hawa nafsu birahi, lain tidak”

BG XVI – 9
Jiwa yang rusak dengan pengertian picik ini, timbul karena pandangan yang teguh ini, menimbulkan perbuatan keji yang menonjol untuk memusnahkan dunia sebagai musuhnya.

BG XVI – 10
Dengan menyerahkan diri kepada kama yang dikuasai oleh sifat berpura-pura, kebanggaan dan kesombongan, yang memiliki pemikiran jahat karena ilusi mereka berbuat hal-hal yang tidak suci.

BG XVI – 11,12
Keinginan yang tak habis-habisnya, yang hanya berakhir pada kematian, dengan menganggap pemuasan nafsu keinginan sebagai tujuan utama, dengan keyakinan bahwa itulah semuanya.

Dibelenggu oleh ratusan ikatan harapan, menyerahkan diri kepada nafsu dan kemarahan, mereka berusaha mengumpulkan kekayaan demi kepuasan nafsu dengan jalan yang tidak benar.

BG XVI – 13,14,15
Hari ini telah kudapatkan, keinginan ini harus kupenuhi, ini adalah kepunyaanku dan kekayaan itu juga akan menjadi milikku nantinya.

Musuh ini telah kubunuh dan yang lain akan ku bunuh pula, aku adalah penguasa, aku adalah penikmat, aku berhasil, berkuasa dan bahagia.

Aku kaya raya dan kelahiran bangsawan, siapakah yang bisa menyamaiku? aku akan mengadakan upacara, aku berderma, aku bergembira, demikian mereka menghayal dalam ketololan.

BG XVI – 16
Berbagai macam pikiran, terperangkap oleh jaring pikiran yang membingungkan, terseret ke dalam pemuasan nafsu mereka jatuh ke dalam neraka yang menjijikan.

BG XVI – 17
Dengan memuji diri, benar sendiri, bangga dan mabuk akan harta, mereka mengadakan bermacam-macam upacara kurban sebagai pulasan belaka, tanpa mengindahkan aturan.

BG XVI – 18
Dengan kebiasaan yang buruk ini (ia) membohongi dirinya sendiri dengan keakuan, kekuatan, kesombongan, nafsu dan kemarahan, membenci Aku yang ada dalam jasmani mereka sendiri dan jasmani lainnya.

BG XVI – 23
Ia yang meninggalkan ajaran kitab suci, berada dibawah pengaruh nafsu keinginan, tak akan mencapai kesempurnaan, kebahagiaan dan tujuan tertinggi.

BG XVI – 24
Karena itu, biarlah kitab-kitab suci menjadi petunjukmu untuk menentukan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh, setelah mengetahui apa yang dikatakan dalam aturan kitab suci engkau hendaknya mengerjakannya disini.

XVII. Sraddhatraya-Vibhaga Yoga

BG XVII – 14
Pemujaan kepada para dewa, para dwijati, guru dan orang yang arif bijaksana; kemurnian, kejujuran, pengendalian nafsu dan tanpa kekerasan ini dikatakan sebagai tapah dari badan.
 
BG XVII – 15
Kata-kata yang tidak melukai hati, dapat dipercaya, lemah lembut dan berguna, demikian pula membiasakan diri dalam mempelajari kitab-kitab suci, ini dikatakan bertapa dengan ucapan.

BG XVII – 16
Pikiran tenang, bersikap lemah lembut, pendiam, mengendalikan diri, jiwa suci, ini semua disebut bertapa dengan pikiran.

BG XVII – 20
Sedekah yang diberikan tanpa mengharapkan kembali, dengan keyakinan sebagai kewajiban untuk memberikan pada tempat, waktu dan penerima yang berhak disebut sattvika.

BG XVII – 21
Sedekah yang diberikan dengan harapan untuk didapat kembali dan memperoleh keuntungan di kemudian hari dan dengan perasaan kesal untuk memberikannya, sedekah seperti itu dinamakan rajasa.

BG XVII – 22
Dan sedekah yang diberikan pada kesempatan dan waktu yang salah kepada mereka yang tidak berhak, tanpa menghormati atau dengan penghinaan dinamakan tamasa.

XVIII. Moksa Samnyasa Yoga

BG XVIII – 9
Wahai Arjuna, kewajiban kerja apapun yang harus dikerjakan karena harus dilakukan, dengan meninggalkan keterikatan dan pahala, penanggalan itu dipandang sattvika.

BG XVIII – 18
Ada tiga macam penyebab yang merangsang orang untuk berbuat, yaitu, pengetahuan, tujuan pengetahuan (dan) orang yang mengetahuinya; ketiga kelompok dasar perbuatan itu adalah penyebab, objek dan pelaku.

BG XVIII – 19
Pengetahuan, kegiatan kerja dan pelakunya yang dinyatakan dalam ajaran Samkhya disebutkan ada tiga macamnya, sesuai dengan perbedaan guna, dengarkanlah kebenarannya.

BG XVIII – 20
Pengetahuan yang menyebabkan terlihatnya jiwa yang kekal abadi dalam semua insani, yang tidak dapat dibagi dalam yang terbagi, ketahuilah pengetahuan ini adalah sattvika.

BG XVIII – 21
Tetapi, pengetahuan yang melihatnya bahwa seluruh mahluk hidup merupakan banyak kesatuan berbeda sebagai saling terpisah satu sama lainnya, ketahuilah pengetahuan ini adalah rajasa.

BG XVIII – 22
Ia yang melihat satu akibat saja seolah-olah merupakan keseluruhan tanpa (melihat) hubungan sebab musahab dan kebenarannya, lagi pula (berpandangan) picik, itulah pengetahuan tamasa.

BG XVIII – 23
Kegiatan kerja yang wajib dilakukan oleh seseorang tanpa bertujuan mencari pemenuhan kebutuhan keinginan pribadinya, bebas dari keterikatan, yang bekerja dengan tiada kecintaan dan kebencian itu dinamakan sattvika.

BG XVIII – 24
Tetapi kegiatan yang dilakukan dengan usaha-usaha keras karena terdorong oleh keinginan dan ke-aku-an dikatakan kegiatan yang rajasa.

BG XVIII – 25
Kegiatan kerja yang dilakukan karena kebingungan tanpa menghiraukan akibatnya, menyakiti hati dan tak hirau akan kemampuan, yang demikian itu disebut tamasa.

BG XVIII – 26
Pelaku yang bebas dari keterikatan dan tidak egois dalam berbicara, penuh dengan keteguhan hati, tak tergoyahkan oleh keberhasilan maupun kegagalan, ia dinamakan sattvika.

BG XVIII – 27
Pelaku yang terbawa arus hawa nafsu, menginginkan pahala kerja, loba, berbahaya tak suci, mudah terpengaruh suka dan duka dinamakan rajasa.

BG XVIII – 28
Pelaksana yang pikirannya tak terkendalikan, tak beradat, sombong, tidak jujur, berhati jahat, tebal muka, pengecut dan suka menunda-nunda, ia dinamakan bersifat tamasa.

BG XVIII – 30
Kecerdasan yang mengenal jalan kegiatan kerja dan penyangkalan, apa yang harus dikerjakan dan yang tidak, takut dan tanpa rasa takut, terikat dan bebas, pengertian yang dimaksud seperti itu ketahuilah, wahai Arjuna adalah sattvika.

BG XVIII – 31
Kecerdasan yang mengetahui benar dan salah, yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan, namun secara keliru, wahai Arjuna inilah yang disebut bersifat rajasa.

BG XVIII – 32
Pengertian yang terselimuti oleh kegelapan sehingga yang benar dikatakan salah dan segala yang dilihat sebaliknya, wahai Arjuna, itulah yang dinamakan tamasa.

BG XVIII – 33
Kemantapan yang tidak tergoyahkan, yang dengan pelaksanaan yoga seseorang mengendalikan kegiatan pikiran, pernafasan dan indra-indra, wahai Arjuna, keteguhan inilah yang sattvika.

BG XVIII – 34
Tetapi, wahai Arjuna, kemantapan yang berpegang pada kewajiban, kesenangan kekayaan, menginginkan pahala sebagai konsekwensi karena keterikatan, keteguhan ini adalah bersifat rajasa.

BG XVIII – 35
Keteguhan hati yang bodoh tak mau melepaskan tidur, kemalasan, kecemasan, kesedihan keputusasaan dan kesombongan, wahai Arjuna, keteguhan hati inilah tamasa.

BG XVIII – 36,37
Tetapi sekarang dengarkanlah dari Aku tiga macam kebahagiaan, wahai Arjuna, dimana dengan membiasakannya seseorang menjadi berbahagia dan mencapai akhir kedukaannya.

Kebahagiaan yang muncul dari pemahaman yang jelas tentang sang diri, yang awalnya laksana racun tetapi pada akhirnya ibarat ambrosia, dinyatakan sebagai sattvika.

BG XVIII – 38
Kebahagiaan yang timbul dari hubungan antara indra dengan objek duniawi, yang pada awalnya bagaikan nektar tetapi akhirnya menjadi racun; kebahagiaan beginilah dinyatakan sebagai rajasa.

BG XVIII – 39
Kebahagiaan yang pada awal dan akhirnya mengakibatkan kesesatan jiwa yang timbul karena suka tidur, malas serta tidak peduli, kebahagiaan ini disebut tamasa.

BG XVIII – 45
Melakukan kerja masing-masing dengan tekun orang mencapai kesempurnaan tertinggi; bagaimanakah orang mencapai kesempurnaan dengan melakukan tugasnya sendiri, dengarkanlah hal itu.

BG XVIII – 47
Lebih mulia melakukan kewajiban sendiri walau tak sempurna daripada melakukan kewajiban orang lain, kendatipun dengan sempurna; sesungguhnya bila ia melaksanakan tugas kewajibannya sendiri sesuai dengan sifatnya, ia tak berdosa.

BG XVIII – 49
Orang yang kecerdasannya tak terikat dimana saja, telah menguasai dirinya dan melepaskan keinginannya, dengan penyangkalan ia mencapai tingkat tertinggi dari kebebasan akan kegiatan kerja.

Tinggalkan komentar